Selasa, 11 Oktober 2011

sistem imun dan limfatik




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah
Sistem kekebalan tubuh adalah bagian dari pertahanan umum kita tubuh terhadap penyakit. Hal fungsi dengan mengakui virus dan bakteri dan mengkonversi informasi yang menjadi hormon yang mengaktifkan proses kekebalan tubuh. Respon ini dapat menjadi keduanya spesifik, dimana tubuh hanya menanggapi agen tertentu dan tidak ada orang lain serta tidak spesifik, di mana tubuh bekerja untuk mempertahankan diri agen berbahaya yang memasuki tubuh.           
            Imunitas adalah kemampuan individu untuk menolak atau mengatasi dampak penyakit tertentu atau agen berbahaya lainnya. Kekebalan, bagaimanapun, adalah sebuah proses selektif, dengan satu yang kebal terhadap satu penyakit dan tidak selalu yang lain. Imunitas dapat berupa bawaan, yang karena faktor warisan, atau diperoleh. Kekebalan berkembang selama masa hidup seseorang sebagai mereka menghadapi berbagai agen berbahaya dan berhasil melawan mereka.    Kekebalan mudah dilihat dalam hal bahwa kami hanya mendapatkan cacar air sekali sebagai seorang anak, meskipun kita dapat terkena mereka pada beberapa kesempatan. Sistem kekebalan tubuh telah dipecah menjadi beberapa yang berbeda "garis pertahanan", mulai hanya dengan hambatan mekanik dan kemudian menjadi lebih dan lebih kompleks, mereka termasuk hambatan mekanis adalah garis pertahanan pertama terhadap agen berbahaya. hambatan mekanik meliputi kulit, selaput lendir yang lorong-lorong baris yang masuk ke dalam tubuh. Hambatan kimia - air mata, air liur keringat dan bekerja untuk menghapus penjajah berbahaya sementara cairan pencernaan dan enzim menghancurkan bakteri dan racun lainnya dari zat-zat tertelan.         Fagositosis adalah kemampuan tertentu sel darah putih untuk mengambil dan menghancurkan bahan limbah dan asing Natural Killer Sel  mampu membedakan sel-sel dengan membran sel abnormal seperti sel-sel tumor atau sel yang terinfeksi virus dan membunuh mereka pada kontak.  Peradangan - adalah upaya tubuh untuk menyingkirkan sesuatu yang mengganggu itu. Jika peradangan karena patogen, peradangan ini disebut sebagai infeksi. Demam - meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan merangsang fagosit, meningkatkan metabolisme dan menurunkan kemampuan organisme tertentu untuk berkembang biak.
Sedangkan sistem limfatik adalah seperangkat sambungan jaringan dan organSistem limfatik terkait erat dengan darah dan sistem sirkulasi, adalah sistem drainase yang luas yang membawa air dan protein dari berbagai jaringan ke aliran darah. Ini mencakup jaringan saluran, yang digambarkan sebagai pembuluh getah bening atau limfatik, Ini adalah jaringan saluran yang membawa cairan jernih yang disebut getah bening. Struktur juga terdiri dari semua komposisi yang untuk pertukaran dan penciptaan limfosit, yang mencakup limpa, timus, sumsum tulang dan jaringan limfoid yang berhubungan dengan sistem pencernaan.
Sistem limfatik merupakan sebagian besar dari pembuluh getah bening, kelenjar getah bening dan kelenjar getah. Pembuluh getah bening, yang berbeda dari pembuluh darah, cairan yang disebut getah bening beruang seluruh sistem tubuh. Getah terdiri dari sel-sel darah putih yang melindungi Anda dari kuman. Semua melalui pembuluh kelenjar getah bening. Seiring dengan limpa, kelenjar getah bening ini adalah lokasi di mana sel-sel darah putih pertempuran penyakit. Anda sumsum tulang dan timus membawa menjadi ada sel-sel di kelenjar getah.





B.     Identifikasi Masalah
Berkaitan dengan judul makalah tersebut, maka masalahnya dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Bagaimana Gangguan sistem imun menyebabkan HIV/AIDS ?
2. Apa gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh ?
      C.  Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada masalah :         
1.    Mekanisme gangguan sitem imun hubunganya terhadap penyakit HIV/AIDS.
2.    Manifestasi klinis tanda dan gejala terhadap gangguan sistem imun.

  D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.    Bagaimana deskripsi sistem imun terhadap penyakit HIV/AIDS ?
2.    Bagaimana hubungan gangguan kekebalan tubuh terhadap penyakit lain ?    










BAB II
METODOLOGI
Metodologi adalah ilmu-ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji. Dalam penyusunan makalah ini, kami menggunakan metode sebagai berikut:
1.      Metode Diskusi
Metode  ini berdasarkan pendekatan diskusi sehingga diperoleh jawaban atas masalah yang  timbul setelah melakukan  pengkajian terhadap masalah dengan menginterpretasikan  hasilnya  dan menjawab dan mempertimbangkan masalah tersebut dengan berbagai sumber yang ada.
2.      Metode Telaah Internet
Metode internet adalah metode yang digunakan dalam mengumpulkan data atau informasi yang dilakukan dengan browsing dan searching.





BAB III
PEMBAHASAN

A.    Naskah Kasus
Setelah 5 tahun bekerja di luar negeri, Bapak Kunto dirawat di Rumah Sakit Ridho karena ia telah memiliki diare lebih dari satu bulan. Ia juga pernah memiliki penyakit flu seperti yang terjadi selama sekitar enam minggu. Sebagai berat tubuhnya juga telah menurun secara drastis ia tampaknya menjadi sebuah gizi. Setelah memeriksa dia, perawat Pipin menemukan beberapa Sarkoma Kaposi, herpes di kulitnya dan beberapa kelenjar bengkak menunjukkan infeksi limfatik. Dia juga melihat dia memiliki kandidiasis oral dan batuk darah karena beberapa tanda-tanda infeksi oportunistik yang berhubungan dengan AIDS. Untuk memastikan hasil pemeriksaan dia kemudian dia bekerja sama dengan psikologi klinis untuk melakukan VCT yang dilanjutkan dengan oleh laboratorium ELISA untuk melakukan Tes Darah Deteksi HIV antibodi yang terdeteksi dalam darah. Dia diberi terapi obat beberapa sebagai berikut: AZT (Zidovudine), Viramune (Nevirapine) dan ritonavir (Ritonavir). Seiring dengan berjalannya waktu, penyakit menjadi lebih parah yang mengarah ke diagnosis AIDS sebagai infeksi oportunistik itu tidak dapat disembuhkan menyebabkan mati.

B.     Pengertian
Human Immunodeficiency Virus (HIV) Merupakan virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang tidak dapat hidup di luar tubuh manusia. Kerusakan sistem kekebalan tubuh ini akan menimbulkan kerentanan terhadap infeksi penyakit Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah : Sekumpulan gejala, infeksi dan kondisi yang diakibatkan infeksi HIV pada tubuh. Muncul akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia sehingga infeksi dan penyakit mudah menyerang tubuh dan dapat menyebabkan kematian. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang muncul akibat lemahnya system pertahanan tubuh yang telah terinfeksi HIV atau oleh sebab lain. Pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya masih baik infeksi ini mungkin tidak berbahaya, namun pada orang yang kekebalan tubuhnya lemah (HIV/AIDS) bisa menyebabkan kematian.
AIDS dapat didefinisikan melalui munculnya IO yang umum ditemui pada ODHA:
1.    Kandidiasis: infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, vagina.
2.    Virus sitomegalia (CMV): menimbulkan penyakit mata yang dapat menyebabkan kematian.
3.    Herpes pada mulut atau alat kelamin.
4.    Mycobacterium avium complex (MAC): infeksi bakteri yang menyebabkan demam kambuhan.
5.    Pneumonia pneumocystis (PCP): infeksi jamur yang dapat menyebabkan radang paru.
6.    Toksoplasmosis: infeksi protozoa otak.
7.    Tuberkolosis (TB) Perjalanan penyakit HIV/AIDS : periode jendela (3-6 bulan) ? HIV + (3-10 tahun)? AIDS + (1-2 tahun). Orang yang terinfeksi HIV dapat tetap sehat sepanjang hidupnya apabila ia menjaga kesehatan tubuhnya: makan teratur, berolahraga dan tidur secara seimbang. Gaya hidup sehat akan tetap melindungi kebugaran orang dengan HIV dan ia akan tetap produktif dalam berkarya. Bila telah muncul tanda-tanda penyakit infeksi dan tidak kunjung sembuh atau berulang, artinya daya tahan tubuh menjadi buruk, sistem kekebalan tubuh berkurang, maka berkembanglah AIDS.



C.     Etiologi
AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV. Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T. Virus ini ditransmisikan melalui kontak intim (seksual), darah atau produk darah yang terinfeksi.

D.     Patofisiologi
Tubuh mempunyai suatu mekanisme untuk membasmi suatu infeksi dari benda asing, misalnya : virus, bakteri, bahan kimia, dan jaringan asing dari binatang maupun manusia lain. Mekanisme ini disebut sebagai tanggap kebal (immune response) yang terdiri dari 2 proses yang kompleks yaitu : Kekebalan humoral dan kekebalan cell-mediated. Virus AIDS (HIV) mempunyai cara tersendiri sehingga dapat menghindari mekanisme pertahanan tubuh. “ber-aksi” bahkan kemudian dilumpuhkan. Virus AIDS (HIV) masuk ke dalam tubuh seseorang dalam keadaan bebas atau berada di dalam sel limfosit. Virus ini memasuki tubuh dan terutama menginfeksi sel yang mempunyai molekul CD4. Sel-sel CD4-positif (CD4+) mencakup monosit, makrofag dan limfosit T4 helper. Saat virus memasuki tubuh, benda asing ini segera dikenal oleh sel T helper (T4), tetapi begitu sel T helper menempel pada benda asing tersebut, reseptor sel T helper .tidak berdaya; bahkan HIV bisa pindah dari sel induk ke dalam sel T helper tersebut. Jadi, sebelum sel T helper dapat mengenal benda asing HIV, ia lebih dahulu sudah dilumpuhkan. HIV kemudian mengubah fungsi reseptor di permukaan sel T helper sehingga reseptor ini dapat menempel dan melebur ke sembarang sel lainnya sekaligus memindahkan HIV. Sesudah terikat dengan membran sel T4 helper, HIV akan menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper. Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse transcriptase, HIV akan melakukan pemrograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA (DNA utas-ganda). DNA ini akan disatukan ke dalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen. Fungsi T helper dalam mekanisme pertahanan tubuh sudah dilumpuhkan, genom dari HIV ¬ proviral DNA ¬  dibentuk dan diintegrasikan pada DNA sel T helper sehingga menumpang ikut berkembang biak sesuai dengan perkembangan biakan sel T helper. Sampai suatu saat ada mekanisme pencetus (mungkin karena infeksi virus lain) maka HIV akan aktif membentuk RNA, ke luar dari T helper dan menyerang sel lainnya untuk menimbulkan penyakit AIDS. Karena sel T helper sudah lumpuh maka tidak ada mekanisme pembentukan sel T killer, sel B dan sel fagosit lainnya. Kelumpuhan mekanisme kekebalan inilah yang disebut AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) atau Sindroma Kegagalan Kekebalan.

E.     Manifestasi Klinis Gejala dan tanda HIV/AID menurut WHO:
1.      Stadium Klinis I  :
a.       Asimtomatik (tanpa gejala)
b.      Limfadenopati Generalisata (pembesaran kelenjar getah bening/limfe seluruh tubuh)
c.       Skala Penampilan
d.      asimtomatik, aktivitas normal.
2.      Stadium Klinis II :
a.       Berat badan berkurang <> 10%
b.      Diare berkepanjangan > 1 bulan
c.       Jamur pada mulut
d.      TB Paru
e.       Infeksi bakterial berat
f.       Skala Penampilan 3 : <> 1 bulan)
g.      Kanker kulit (Sarcoma Kaposi)
h.      Radang Otak (Toksoplasmosis, Ensefalopati HIV)
i.        Skala Penampilan 4 : terbaring di tempat tidur > 50% dalam masa 1 bulan terakhir.
                 http://oknurse.files.wordpress.com/2010/09/275px-symptoms_of_aids.png?w=235&h=300
Gambar 1.1,gejala utama AIDS
F.      Komplikasi
1.      Oral Lesi Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat. Kandidiasis oral ditandai oleh bercak-bercak putih seperti krim dalam rongga mulut. Jika tidak diobati, kandidiasis oral akan berlanjut mengeni esophagus dan lambung. Tanda dan gejala yang menyertai mencakup keluhan menelan yang sulit dan rasa sakit di balik sternum (nyeri retrosternal).
2.      Neurologik a.ensefalopati HIV atau disebut pula sebagai kompleks dimensia AIDS (ADC; AIDS dementia complex).
3.      Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala, kesulitan berkonsentrasi, konfusi progresif, perlambatan psikomotorik, apatis dan ataksia. stadium lanjut mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam respon verbal, gangguan efektif seperti pandangan yang kosong, hiperefleksi paraparesis spastic, psikosis, halusinasi, tremor, inkontinensia, dan kematian.
4.      Meningitis kriptokokus ditandai oleh gejala seperti demam, sakit kepala, malaise, kaku kuduk, mual, muntah, perubahan status mental dan kejang-kejang. diagnosis ditegakkan dengan analisis cairan serebospinal.
5.      Gastrointestinal Wasting syndrome kini diikutsertakan dalam definisi kasus yang diperbarui untuk penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya mencakup penurunan BB > 10% dari BB awal, diare yang kronis selama lebih dari 30 hari atau kelemahan yang kronis, dan demam yang kambuhan atau menetap tanpa adanya penyakit lain yang dapat menjelaskan gejala ini.
6.      Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
7.      Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
8.      Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal, gatal-gatal dan diare.
9.      Respirasi Pneumocystic Carinii. Gejala napas yang pendek, sesak nafas (dispnea), batuk-batuk, nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam akan menyertai pelbagi infeksi oportunis, seperti yang disebabkan oleh Mycobacterium Intracellulare (MAI), cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides.
10.  Dermatologik Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi sekunder dan sepsis. Infeksi oportunis seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai dengan pembentukan vesikel yang nyeri dan merusak integritas kulit. moluskum kontangiosum merupakan infeksi virus yang ditandai oleh pembentukan plak yang disertai deformitas. dermatitis sosoreika akan disertai ruam yang difus, bersisik dengan indurasi yang mengenai kulit kepala serta wajah.penderita AIDS juga dapat memperlihatkan folikulitis menyeluruh yang disertai dengan kulit yang kering dan mengelupas atau dengan dermatitis atopik seperti ekzema dan psoriasis.
11.  Sensorik
12.  Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak mata : retinitis sitomegalovirus berefek kebutaan.
13.  Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri yang berhubungan dengan mielopati, meningitis, sitomegalovirus dan reaksi-reaksi obat.
G.    Pencegahan
1.       A (Abstinent): Puasa, jangan melakukan hubungan seksual yang tidak sah.
2.       B (Be Faithful)Setialah pada pasangan, melakukan hubungan seksual hanya dengan pasangan yang sah
3.       C (use Condom) Pergunakan kondom saat melakukan hubungan seksual bila berisiko menularkan/tertular penyakit
4.       D (Don’t use Drugs) Hindari penyalahgunaan narkoba
5.       E (Education) Edukasi, sebarkan informasi yang benar tentang HIV/AIDS dalam setiap kesempatan
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
System imun melibatkan berbagai jenis sel dan fungsi saling terkait yang merupakan suatu jaringan aktivitas yang secara terus menerus mempertahankan tubuh dari bahan dan organism asing, yaitu virus. Tipe sel termasuk limfosit (sel) B dan T, makrofag, dan granulosit. Sel B merupakan satu-satunya sel yang menghasilkan antibody, yang merupakan imunoglobin yang berinteraksi dengan antigen (molekul asing terhadap system imun). Namun, baik sel B maupun sel T pat mengenali antigen. Sementara, sementara suatu sel B dapat mengenali suatu antigen bebas, suatu sel T harus mempunyai antigen yang disajikan padanya oleh suatu sel penyaji antigen yaitu suatu makrofag, sakelar master dari respon imun adalah sel T penolong, yang jika disajikan dengan suatu antigen, bertindak mengaktifasi berbagai jenis sel dari system imun untuk memberikan respon terhadap ancaman dari penyerang asing.
Salah satu dari retrovirus manusia yang pertama diidentifikasi adalah agen yang erpakan penyebab dari penyakit fatal acquired immune deficiency syndrom (AIDS). Virus, seperti semua retrovirus mempunyai suatu genom ssRNA, disebut suatu virus imunodefisiensi manusia (HIV). Setelah  dapat  menjadi mantap dalam individu yang terinfeksi, timbul suatu keadaan imunodefisiensi yang lazimnya menjadi progresif. Kegagalan dari pertahanan imun ini menimbulkan perkembangan infeksi opportunistic, contonya pneumonia, dan sering sarcoma Kaposi (suatu kanker yang berkaitan dengan keadaan imunosupresi tertentu) . Gangguan fungsi neurologis, contohnya, demensia yang berat, dapat juga merupakan manifestasi dari penyakit ini. Penyakit yang tragis, tidak dapat disembuhkan, menimbulkan kematian.
            Riset mengenai penyakit ini telah menetapkan bahwa penyebab dari AIDS adalah kehabisan yang berat dari sel penolong, AIDS dapat dianggap suatu anemia sel T penolong. Tanpa sakelar masternya, tubuh tidak dapat meningkatkan pertahanan imunologis normal melawan age patogenik, dan sebagai akibatnya, peka terhadap infeksi. Contohnya, agen yang secara karakteristik menyebabkan infeksi opportunistic adalah pneumocystis carinii, mycobacterium avium, dan candela albicans (suatu ragi). Dalam keadaan normal, organisme ini dikendalikan secara efektif melalui respon imun yang diperantarai oleh sel T penolong, namun pada korban AIDS, respon ini tidak efektif atau tadak ada.
            Mengenai pengikatan HIV selular reseptor sel - target adalah glikoprotein CD4 yang ditemukan pada membrane sel T penolong dan sejumlah penyaji antigen. Dengan demikian, HIV mempunyai kemampuan untuk bereplikasi dalam beberapa tipe sel dari system imun, walaupun destruksi dari sel T penolong melalui virus yang berepiklasi dewasa ini diduga bertanggung jawab terhadap AIDS, namun penyebab dari penyakti ini tetap menjadi topic perdebatan ilmiah, contohnya, destruksi atau inaktifasi dari makrofag(yang membawa CD4) yang pda giliranya mencegah aktifasi sel T penolong, juga diduga sebagai suatu penyebab dari suatu ddefisiensi imun.


Daftar Pustaka
Grimes, E.D, Grimes, R.M, and Hamelik, M, 1991, Infectious Diseases, Mosby Year Book, Toronto.         

Christine L. Mudge-Grout, 1992, Immunologic Disorders, Mosby Year Book, St. Louis.     

Rampengan dan Laurentz, 1995, Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, cetakan kedua, EGC, Jakarta.             

Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo Surabaya.          

Lyke, Merchant Evelyn, 1992, Assesing for Nursing Diagnosis ; A Human Needs Approach,J.B. Lippincott Company, London.      

Phipps, Wilma. et al, 1991, Medical Surgical Nursing : Concepts and Clinical Practice, 4th edition, Mosby Year Book, Toronto     

Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta
http://srigalajantan.wordpress.com/2009/12/14/asuhan-keperawatan-hivaids/







nyeri


NYERI

a.       Definisi nyeri
Nyeri adalah suatu sensori subyektif dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan. (Potter & Perry, 2005).
Definisi lain nyeri adalah pengalaman subjektif, sangat pribadi dipengaruhi oleh pendidikan, budaya, makna situasi dan kognitif ( menurut Bonica dan Melzack, 1987).
b.      Fisiologi nyeri
Menurut Torrance & Serginson (1997), ada tiga jenis sel saraf dalam proses penghantaran nyeri yaitu sel syaraf aferen atau neuron sensori, serabut konektor atau interneuron dan sel saraf eferen atau neuron motorik. Sel-sel syaraf ini mempunyai reseptor pada ujungnya yang menyebabkan impuls nyeri dihantarkan ke sum-sum tulang belakang dan otak. Reseptor-reseptor ini sangat khusus dan memulai impuls yang merespon perubahan fisik dan kimia tubuh. Reseptor-reseptor yang berespon terhadap stimulus nyeri disebut nosiseptor.
Stimulus pada jaringan akan merangsang nosiseptor melepaskan zat-zat kimia, yang terdiri dari prostaglandin, histamin, bradikinin, leukotrien, substansi p, dan enzim proteolitik. Zat-zat kimia ini akan mensensitasi ujung syaraf dan menyampaikan impuls ke otak (Torrance & Serginson, 1997).
Menurut Smeltzer & Bare (2002) kornu dorsalis dari medula spinalis dapat dianggap sebagai tempat memproses sensori. Serabut perifer berakhir disini dan serabut traktus sensori asenden berawal disini. Juga terdapat interkoneksi antara sistem neural desenden dan traktus sensori asenden.

Traktus asenden berakhir pada otak bagian bawah dan bagian tengah dan impuls-impuls dipancarkan ke korteks serebri.
Agar nyeri dapat diserap secara sadar, neuron pada sistem asenden harus diaktifkan. Aktivasi terjadi sebagai akibat input dari reseptor nyeri yang terletak dalam kulit dan organ internal. Terdapat interkoneksi neuron dalam kornu dorsalis
yang ketika diaktifkan, menghambat atau memutuskan taransmisi informasi yang menyakitkan atau yang menstimulasi nyeri dalam jaras asenden. Seringkali area indisebut “gerbang”. Kecendrungan alamiah gerbang adalah membiarkan semua input yang menyakitkan dari perifer untuk mengaktifkan jaras asenden dan mengaktifkan nyeri. Namun demikian, jika kecendrungan ini berlalu tanpa perlawanan, akibatnya sistem yang ada akan menutup gerbang. Stimulasi dari neuron inhibitor sistem asenden menutup gerbang untuk input nyeri dan mencegah transmisi sensasi nyeri (Smeltzer & Bare, 2002).
Teori gerbang kendali nyeri merupakan proses dimana terjadi interaksi antara stimulus nyeri dan sensasi lain dan stimulasi serabut yang mengirim sensasi tidak nyeri memblok transmisi impuls nyeri melalui sirkuit gerbang penghambat. Sel-sel inhibitor dalam kornu dorsalis medula spinalis mengandung eukafalin yang menghambat transmisi nyeri (Wall, 1978 dikutip dari Smeltzer & Bare, 2002).
c.       Klasifikasi nyeri
Nyeri dikelompokkan sebagai nyeri akut dan nyeri kronis. Nyeri akut biasanya datang tiba-tiba, umumnya berkaitan dengan cidera spesifik, jika kerusakan tidak lama terjadi dan tidak ada penyakit sistemik, nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan penyembuhan. Nyeri akut didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung beberapa detik hingga enam bulan (Brunner & Suddarth, 1996).
Berger (1992) menyatakan bahwa nyeri akut merupakan mekanisme pertahanan yang berlangsung kurang dari enam bulan. Secara fisiologis terjadi perubahan denyut jantung, frekuensi nafas, tekanan darah, aliran darah perifer, tegangan otot, keringat pada telapak tangan, dan perubahan ukuran pupil.
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang satu periode waktu. Nyeri kronis dapat tidak mempunyai awitan yang ditetapkan dan sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri kronis sering didefenisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama enam bulan atau lebih (Brunner & Suddarth, 1996 dikutip dari Smeltzer 2001).
Menurut Taylor (1993) nyeri ini bersifat dalam, tum
pul, diikuti berbagai macam gangguan, terjadi lambat dan meningkat secara perlahan setelahnya, dimulai setelah detik pertama dan meningkat perlahan sampai beberapa detik atau menit. Nyeri ini berhubungan dengan kerusakan jaringan, ini bersifat terus-menerus atau intermitten.
d.      Cara mengatasi nyeri
Banyak aktivitas keperawatan nonfarmakologis dan noninvasif yang dapat membantu menghilangkan nyeri. Metode pereda nyeri nonfarmakologis biasanya mempunyai risiko yang sangat rendah. Tindakan nonfarmakologis bukan merupakan pengganti obat-obatan, tindakan tersebut mungkin diperlukan, atau sesuai untuk mempersingkat episode nyeri yang berlangsung hanya beberapa detik atau menit.
1) Stimulasi dan masase kutaneus
Masase adalah stimulasi kutaneus tubuh secara umum, sering dipusatkan pada punggung dan bahu. Masase tidak secara spesifik menstimulasi reseptor tidak nyeri pada bagian reseptor yang sama seperti reseptor nyeri, tetapi dapat mempunyai dampak melalui sistem kontrol desenden. Masase dapat membuat pasien lebih nyaman karena masase membuat relaksasi otot.       Teori gate control telah menjelaskan, bertujuan untuk menstimulasi serabut-serabut yang menstransmisikan sensasi tidak nyeri memblok atau menurunkan transmisi impuls nyeri.         
2) Terapi es (dingin) dan panas.   
Terapi es dapat menurunkan prostaglandin, yang memperkuat sensitivitas reseptor nyeri dan subkutan lain pada tempat cedera dengan menghambat proses inflamasi. Agar efektif, es harus diletakkan pada tempat cedera segera setelah terjadi cedera, (Cohen, 1989 dalam Suddart dan Brunner, 1997). Penggunaan panas mempunyai keuntungan meningkatkan aliran darah ke suatu area dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan. Namun penggunaan panas kering dengan lampu pemanas tidak seefektif penggunaan es. Diduga es dan panas bekerja dengan menstimulasi reseptor tidak nyeri (non nosiseptor) dalam bidang reseptor yang sama seperti pada cedera.   
3) Stimulasi saraf elektris transkutan / Transcutan electric nerve stimulation (TENS)
Tens menggunakan unit yang dijalankan oleh baterai dengan elektrode yang dipasang pada kulit untuk menghasilkan sensasi kesemutan, menggetar atau mendengung pada area nyeri. Tens digunakan baik pada menghilangkan nyeri akut dan kronik.
Tens diduga dapat menurunkan nyeri dengan menstimulasi reseptor tidak nyeri (non nosiseptor) dalam area yang sama seperti pada serabut yang mentransmisi nyeri. Mekanisme ini sesuai dengan teori nyeri gate control          
4) Distraks i
Distraksi mencakup memfokuskan perhatian pasien pada sesuatu selain pada nyeri, misalnya dengan cara kunjungan dari keluarga dan teman-teman pasien. Melihat film layar lebar dengan suara surround. Tidak semua pasien mencapai peredaan nyeri melalui distraksi. Distraksi diduga dapat menurunkan persepsi nyeri dengan menstimulasi sistem kontrol desenden, yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli nyeri yang ditransmisikan ke otak.    
5) Tehnik relaksasi           
Tehnik relaksasi terdiri atas napas abdomen dengan frekuensi lambat, berirama. Pasien dapat memejamkan matanya dan bernapas dengan perlahan dan nyaman. Irama yang konstan dapat dipertahankan dengan menghitung dalam hati dan lambat bersama setiap ekshalasi dan inhalasi. Relaksasi otot skletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri.        
6) Imajinasi terbimbing    
Menggunakan imajinasi seseorang dalam suatu cara yang dirancang secara khusus untuk mencapai efek positif tertentu. Imajinasi terbimbing menyebabkan relaksasi otot dan pikiran dimana efeknya hampir sama dengan penggunaan tehnik relaksasi dengan metode yang berbeda.         
7) Hipnosis           
Tehnik ini mungkin membantu dalam memberikan peredaan nyeri terutama dalam situasi sulit. Mekanisme bagaimana kerjanya hiposis tidak jelas tetapi tidak jelas tetapi tidak tampak diperantaraioleh sistem endorfin (Moret et.all, 1991 dalam Suddart and Brunner, 1997).
e.       Cara mengkaji nyeri
Perawat harus menggali pengalaman nyeri dari sudut pandang klien. Keuntungan pengkajian nyeri bagi klien adalah bahwa nyeri diidentifikasi, dikenali sebagai sesuatu yang nyata, dapat diukur, dapat djelaskan, serta digunakan untuk mengevaluasi perawatan.       
Hal-hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut:           
1.Ekspresi klien terhadap nyeri   
Banyak klien tidak melaporkan/mendiskusikan kondisi ketidaknyamanan. Untuk itulah perawat harus mempelajari cara verbal dan nonverbal klien dalam mengkomunikasikan rasa ketidaknyamanan. Klien yang tidak mampu berkomunikasi efektif seringkali membutuhkan perhatian khusus ketika pengkajian.    
2.Klasifikasi pengalaman nyeri   
Perawat mengkaji apakah nyeri yang dirasakan klien akut atau kronik. Apabila akut, maka dibutuhkan pengkajian yang rinci tentang karakteristik nyeri dan apabila nyeri bersifat kronik, maka perawat menentukan apakah nyeri berlangsung intermiten, persisten atau terbatas.        
3.Karakteristik nyeri       
- Onset dan durasi           
Perawat mengkaji sudah berapa lama nyeri dirasakan, seberapa sering nyeri kambuh, dan apakah munculnya nyeri itu pada waktu yang sama.      
- Lokasi   
Perawat meminta klien untuk menunjukkan dimana nyeri terasa, menetap atau terasa pada menyebar.    
- Keparahan         
Perawat meminta klien menggambarkan seberapa parah nyeri yang dirasakan. Untuk memperoleh data ini perawt bias menggunakan alat Bantu, skala ukur. Klien ditunjukkan skala ukur, kemudian disuruh memilih yang sesuai dengan kondisinya saat ini yang mana. Skala ukur bis berupa skala numeric, deskriptif, analog visual. Untuk anak-anak skala yan digunakan adalah skala oucher yang dikembangkan oleh Beyer dan skala wajah yang diembangkan oleh Wong & Baker. Pada skala oucher terdiri dari skala dengan nilai 0-100 pada sisi sebelah kiri untuk anak-anak yang lebih besar dan skala fotografik enam gambar pada sisi kanan untuk anak yang lebih kecil. Foto wajah seorang anak dengan peningkatan rasa ketidaknyamanan dirancang sebagai petunjuk untuk memberi anak-anak pengertian sehingga dapat memahami makna dan keparahan nyeri. Anak bisa diminta untuk mendiskripsikan nyeri yang dirasakan dengan memilih gambar yang ada. Skala wajah terdiri dari enam wajah dengan profil kartun yang menggambarkan wajah dari wajah yang sedang tersenyum (tidak merasa nyeri), kemudian secara bertahap meningkat sampai wajah yang sangat ketakutan (nyeri yang sangat). 
Contoh gambar skala nyeri:        

- Kualitas 
Minta klien menggambarkan nyeri yang dirasakan, biarkan klien mendiskripsikan apa yang dirasakan sesuai dengan kata-katanya sendiri. Perawat boleh memberikan deskripsi pada klien, bila klien tidak mampu menggambarkan nyeri yang dirasakan.  
- Pola nyeri          
Perawat meminta klien untuk mendiskripsikan ativitas yang menyebabkan nyeri dan meminta lien untuk mendemontrasikan aktivitas yang bisa menimbulkan nyeri.
- Cara mengatasi 
Tanyakan pada klien tindakan yang dilakukan apabila nyerinya muncul dan kaji juga apakah tindakan yang dilakukan klien itu bisa efektif untuk mengurangi nyeri.
- Tanda lain yang menyertai        
Kaji adanya penyerta nyeri, seperti mual, muntah, konstipasi, gelisah, keinginan untuk miksi dll. Gejala penyerta memerlukan prioritas penanganan yang sama dengan nyeri itu sendiri.          
4. Efek nyeri pada klien  
Nyeri merupakan kejadian yang menekan atau stress dan dapat mengubah gaya hidup dan kesejahteraan psikologis individu. Perawat harus mengkaji hal-hal berikut ini untuk mengetahui efek nyeri pada klien:    
a. Tanda dan gejala fisik 
Perawat mengkaji tanda-tanda fisiologis, karena adanya nyeri yang dirasakan klien bisa berpengaruh pada fungsi normal tubuh.          
b. Efek tingkah laku        
Perawat mengkaji respon verbal, gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan interaksi sosial. Laporan verbal tentang nyeri merupakan bagian vital dari pengkajian, perawat harus bersedia mendengarkan dan berusaha memahami klien. Tidak semua klien mampu mengungkapkan nyeri yang dirasakan, untuk hal yang seperti itu perawat harus mewaspadai perilaku klien yang mengindikasikan nyeri.          
c. Efek pada ADL          
Klien yang mengalami nyeri kurang mampu berpartisipasi secara rutin dalam aktivitas sehari-hari. Pengkajian ini menunjukkan sejauh mana kemampuan dan proses penyesuaian klien berpartisipasi dalam perawatan diri. Penting juga untuk mengkaji efek nyeri pada aktivitas sosial klien.      
5. Status neurologis         
Fungsi neurologis lebih mudah mempengaruhi pengalaman nyeri. Setiap faktor yang mengganggu atau mempengaruhi resepsi dan persepsi nyeri yang normal akan mempengaruhi respon dan kesadaran klien tentang nyeri. Penting bagi perawat untuk mengkaji status neurologis klien, karena klien yang mengalami gangguan neurologis tidak sensitif terhadap nyeri. Tindakan preventif perlu dilakukan pada klien dengan kelainan neurologis yang mudah mengalami cidera.
f.       Pengukuran intensitas nyeri
Menurut Perry dan Potter (1993), nyeri tidak dapat diukur secara objektif misalnya dengan X-Ray atau tes darah. Namun tipe nyeri yang muncul dapat diramalkan berdasarkan tanda dan gejalanya. Kadang-kadang hanya bisa mengkaji nyeri dengan berpatokan pada ucapan dan prilaku klien. Klien kadang-kadang diminta untuk menggambarkan nyeri yang dialaminya tersebut sebagai nyeri ringan, nyeri sedang, atau berat. Bagaimanapun makna dari istilah tersebut berbeda. Tipe nyeri tersebut berbeda pada setiap waktu. Gambaran skala nyeri merupakan makna yang lebih objektif yang dapat diukur. Gambaran skala nyeri tidak hanya berguna dalam mengkaji beratnya nyeri, tetapi juga dapat mengevaluasi perubahan kondisi klien.


 Ada tiga cara mengkaji intensitas nyeri yang biasa digunakan antara lain :
1.      skala intensitas nyeri deskriptif
-          0                       : tidak nyeri
-          1-3                    : nyeri ringan
-          4-6                    : nyeri sedang
-          7-9                    : nyeri berat terkontrol
-          10                     : nyeri berat tidak terkontrol
2.      Skala identitas nyeri numeric
-          0                       : tidak nyeri
-          1-9                    : nyeri sedang
-          10                     : nyeri hebat
3.      Skala analog visual


 


  Tidak nyeri                                                                                nyeri sangat hebat
4.      Skala nyeri menurut bourbanis
-          0                          : tidak nyeri
-          1-3                       : nyeri ringan
-          4-6                       : nyeri sedang
-          7-9                       : nyeri berat terkontrol
-          10                        : nyeri berat tak terkontrol.
Intensitas nyeri mengacu kepada kehebatan nyeri itu sendiri, untuk menentukan derajat nyeri, dapat menanyakan klien tentang nyeri yang dirasakan dengan menggunakan skala numerik 0-10 atau skala yang serupa lainnya yang membantu menerangkan bagaimana intensitas nyerinya. Cara mengkaji nyeri yang digunakan adalah 0-10 angka skala intensitas nyeri. Intensitas nyeri dibedakan menjadi empat dengan menggunakan skala numerik yaitu :
0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat terkontrol: secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat tidak terkontrol : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.

Minggu, 05 Juni 2011

contoh teks dengn past tense, past continus and past perfect tense

accident
This accident was happening after from the campus, after I heard that the next day is holiday, I went home because the day in the afternoon, eventually the distance from campus until the house is very far a way. The day looked claudy, and my estimate was really, heavy rain fell when I was riding the motor cycle. Although heavy the rain fell, the trip still I continued with a relatively high speed, effectly I fell from the bike because the roads are too slippery , I’m very anxiety, because its machine dies, when I was repairing a part damaged of machine, a people came to me, and he was ask :
- “ what have you been doing ? “
- and I answer “ I have been repairing the machine since two last hours but I feel      can’t own fix” , why are you there is in here ?
- he answer “ I ‘ve been waiting bus fortunately 1 saw you fell in here.
After we get discussion ,Then he deliver me to workshop, after the motorcycle back to utilized, I continued the trip although with little bit painfulness on my arm. finally arrived home around midnight, apparently dad was sleeping when I get home. After heard this story parents also feel worried and immediately took me to the doctor, 


 by : aris wibowo (A11000615)